Selamat Datang di ceritasex8899 | Agen Poker Terpercaya | BBM : 2BCFD6A9 | Ayo Gabung Dapatkan Bonus-Bonus nya Dan Jackpot Ratusan Juta Rupiah. www.StarDomino.com |

Tuesday, March 22, 2016

Cerita Seks Mba Sari Menitihku

Agen Domino Online - Perkenalkan nama saya Aldi, saya sering membaca cerita-cerita di esexesex.com dan saya ingin berbagi cerita dengan para pembaca. Cerita saya ini betul-betul terjadi dan ini pengalaman pertama saya dalam dunia seks.



Saat ini saya berusia 24 tahun dan cerita ini terjadi pada saat saya berusia 13 tahun tepatnya saat saya kelas 2 SMP. 

Waktu itu saya tinggal di daerah perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur dan didekat rumah kami ada seorang wanita yang bernama Mbak Sari yang tinggal dengan ibunya yang berusia sekitar 55 tahun dan di rumahnya ada seorang pembantu tetapi tidak tinggal di rumah itu karena ia dan keluarganya mengontrak rumah di perkampungan sekitar rumah saya.

Sejak kecil saya sudah dekat dengan Mbak Sari, saya sering diajak main ke rumahnya dan kadang-kadang menginap untuk menemani dia. 

Orang tua saya juga dekat dengan ibunya Mbak Sari sehingga mereka tidak pernah melarang saya bermain atau menginap di rumah Mbak Sari.

Pada tahun 1989 Mbak Sari menikah dengan Mas Dodi yang bekerja sebagai awak kapal pesiar sehingga ia jarang pulang dan dalam 1 tahun ia cuma pulang 4 kali. 

Karena Mas Dodi jarang pulang maka Mbak Sari sering mengajak saya bermain atau menginap di rumahnya untuk mengusir rasa sepi terlebih sejak Mbak Sari menikah, ibunya pindah ke Semarang untuk mengasuh cucunya.

Pada saat itu Mbak Sari berusia 21 tahun, ia memiliki tubuh yang indah dengan tinggi 168 cm, badannya kelihatan padat berisi apalagi payudaranya yang besar dan bulat dan baru saya ketahui ia memakai BH ukuran 34C. Bila sedang di rumah ia senang mengenakan kaos oblong tipis dan celana pendek ketat kadang-kadang tanpa BH.

Pada mulanya saya tidak peduli dengan dia, tetapi setelah saya menonton film BF milik kakak teman saya, saya baru mulai tertarik dengan Mbak Sari. 

Karena sudah terbiasa dengan adanya saya di rumahnya, sehingga ia sering berganti pakaian tanpa menutup pintu atau mandi dengan pintu hanya tertutup setengah.

Saya sering mengintip bila ia mandi dimana saya dapat melihat keindahan tubuhnya dengan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam dan payudaranya yang besar dan bulat dengan pentilnya yang berwarna coklat muda.

Bila sedang tidur Mbak Sari tidak pernah menggunakan BH dan sering saya terbangun untuk mengelus-elus buah dadanya dan kadang saya pilin-pilin pentilnya. 

Karena sering melihat pemandangan seperti itu saya menjadi suka berkhayal bagaimana rasanya kalau saya bersetubuh dengan Mbak Sari seperti yang saya lihat di film BF dan hal itu saya lakukan sambil saya mengocok-ngocok kemaluan saya hingga tegang yang panjangnya 14 cm dan berdiameter 4 cm pada saat itu.

Waktu itu saya sedang liburan kenaikan kelas dan seperti biasanya saya manfaatkan untuk bermain. Pada suatu siang saya keluar dari rumah untuk membeli mainan, sesampainya di depan rumah Mbak Sari yang berjarak sekitar 5 rumah tiba-tiba hujan turun dan Mbak Sari yang sedang mengangkat jemuran berteriak memanggil saya,

“Aldi, kamu jangan hujan-hujanan! Sini bantuin Mbak ngangkat jemuran!” Lalu saya berlari masuk ke dalam rumahnya. 

Sesampainya di dalam rumah Mbak Sari langsung ke belakang membereskan jemuran sedangkan saya menuju ke ruang tengah untuk bermain game dan saya lihat TV dalam keadaan menyala tetapi tidak ada gambarnya dan video dalam keadaan stand by, akhirnya saya hidupkan video itu dan ternyata berisi film BF dimana adegannya seorang laki-laki dan perempuan sedang melakukan pemanasan.

Setelah agak lama saya menyaksikan adegan dalam film tersebut tiba-tiba Mbak Sari muncul dan langsung mematikan TV, “Heh, ini film orang dewasa kamu belum boleh nonton ini!” akhirnya saya menyeletuk,

“Aldi udah pernah nonton kok di rumah Toni,” dan dengan polosnya saya bertanya,

“Mbak, enak nggak sih begituan? Kok orang teriak-teriak, emang sakit ya?” dan Mbak Sari menjawab,

“Ya enak dong, kalau orangnya teriak-teriak itu tandanya keenakan,” saya hanya manggut-manggut mendengarnya.

Akhirnya Mbak Sari masuk ke dalam kamarnya dan tidak berapa lama dia memanggil saya, “Di, pijitin Mbak dong, Mbak pegel nih,” dan mendengar itu saya langsung masuk ke kamarnya. 

Bila sebelum hari itu saya memijit Mbak Sari tanpa perasaan apa-apa tetapi hari itu saya merasa gemeteran dan pikiran saya langsung ngeres.

“Mbak buka bajunya dong! entar kusut lho,” begitu saya menyuruh Mbak Sari agar saya dapat melihat dan memegang payudaranya. 

Akhirnya Mbak Sari membuka kaos oblongnya dan langsung tengkurap sehingga saya tidak sempat melihat payudaranya secara langsung.

Ketika saya sedang memijat punggungnya, dengan sengaja pijatan saya turunkan sehingga menyentuh buah dadanya dari samping. Tanpa diduga Mbak Sari berbalik dan…

“Di, pijitin tetek Mbak,” langsung saya remas-remas buah dada yang besar dan bulat itu dan Mbak Sari mengeluarkan suara mendesis dari mulutnya. 

Tanpa diperintah saya langsung menjilati dan menghisap payudaranya bergantian kanan dan kiri seperti yang saya lihat dalam film dan Mbak Sari semakin mendesah,

“Aaasshhh, terus hisap sayang… ooohhh enak Di…” badannya menggeliat-geliat kegelian. Kemudian Mbak Sari menyuruh saya untuk mencopot semua baju saya dan saya turuti dan akhirnya ia mencopot celana pendek dan CD-nya hingga akhirnya kami berdua telanjang bulat.

Setelah telanjang saya masih menciumi payudara Mbak Sari, sedangkan tangan Mbak Sari meremas-remas batang kemaluan saya sambil mengocoknya. 

Akhirnya karena sudah bernafsu, ciuman saya semakin turun dan berhenti di gundukan yang ditumbuhi rambut hitam, Mbak Sari memegang kepala saya dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya.

“Jilatin memek Mbak, Di!” langsung kumainkan lidahku di daerahnya yang telah basah karena telah terangsang waktu kuhisap-hisap payudaranya dan sesekali kuhisap daging kecil di atas lubang kemaluannya yang lebih dikenal dengan klitoris.

“Oohh… Di… enak banget sayang… aacchhh… aku mau keluar,” celotehnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya hingga liang kemaluannya terangkat. Aku terus menjilati liang kemaluannya sampai akhirnya…

“Aachh… aku mau keluar… oohh… yes,” dan… “Creeet… creeet… creeet…” mengalirlah air yang berwarna putih kental dari lubang kemaluan Mbak Sari dan langsung kujilat hingga bersih bersamaan dengan mengejangnya otot Mbak Sari.

Setelah nafasnya teratur setelah orgasmenya yang pertama, Mbak Sari kembali mengocok-ngocok batang kemaluanku dan berkata, “Titit kamu gede, Di! Masukin ke memek Mbak, ya!” aku hanya mengangguk karena merasakan nikmatnya kocokan tangan Mbak Sari.

Akhirnya sambil tidur terlentang Mbak Sari membuka kedua kakinya lebar-lebar hingga lubang kemaluannya yang merah dan basah terlihat menganga, sambil menuntun burungku ke depan lubang kemaluannya ia berkata,

“Nanti kamu masukinnya pelan-pelan ya, soalnya titit kamu gede.” Setelah pas di depan lubang kemaluannya langsung saya tekan hingga batang kemaluan saya masuk setengah, “Aaaoooww… sakit… pelan-pelan!” Kemudian saya tarik lagi batang kemaluan saya hingga tinggal kepalanya yang tertinggal dan rasanya geli sekali apalagi lubang kemaluan Mbak Sari masih terasa seret.

Kemudian saya memompa pantat saya maju mundur dan waktu mendorong seluruh batang kemaluan saya amblas ke dalam lubang kemaluan Mbak Sari dan semakin cepat saya memompa semakin keras Mbak Sari mengerang,

“ooohhh… yeeaah… terus… aaahhh… masukkin yang dalam sayang ooohhh… aku mau keluar… terus… aahhh… enak benar kontolmu, aku… nggak tahaaan… aaakkhhh…” tiba-tiba kaki Mbak Sari melingkar ke pinggul saya dan mengunci saya, tetap saya masih terus memompa sambil memeluk dan menciumi lehernya dan kemudian dia berteriak, “Aku mau keluar… aakkhh…”

“Creeet… creeet… creeeet…”

Tubuhnya mengejang dan batang kemaluan saya yang masih menancap di dalam lubang kemaluannya terasa hangat.

Setelah nafasnya kembali teratur, saya kembali menghisap puting susunya dan ia mulai mendesis, kemudian di dalam kemaluannya mulai mengeluarkan cairan dan saya mulai memompa kembali sekitar 15 menit.

“Ooohhh… Mbak.. memekmu… enak… acckhh…”

“Kontolmu juga enak… hhhsss… yes… terus… akhh… aku mau keluar lagi… oohhh…”

“Mbak, aku mau keluar!”

“Tunggu, kita keluarin sama-sama!”

Tiba-tiba badan saya kaku akhirnya…

“Aakkhhh… aku… kell.. keluar… keluar…”

“Crot.. croot.. croot…”

Sekitar 6 kali saya semprotkan air mani saya ke dalam rahim Mbak Sari dan saya biarkan batang kemaluan saya di dalam liang kemaluannya sampai lemas dan Mbak Sari memeluk saya dan berkata,

“Kamu hebat Di, Mbak seneng ngentot sama kamu, kalau kamu kepengen bilang ya!” sambil mencium bibir saya.

Malam itu akhirnya saya menginap di rumah Mbak Sari dan kami bercinta sampai 4 kali. Sekitar 3 tahun saya selalu meniduri Mbak Sari apabila suaminya sedang berlayar dan akhirnya ia hamil dan punya anak.

Saya sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi karena saya sudah pindah ke daerah pinggiran Jakarta dan Mbak Sari sendiri menurut kabar yang saya terima sekarang tinggal di Surabaya karena suaminya bekerja di pelabuhan, tidak di kapal lagi.

No comments:

Post a Comment